Menyelam di Dermaga Militer NATO 2


Share Button

Lokasi penyelaman kami kali ini memang sangat unik. Sebuah dermaga militer NATO yang masih aktif. Dermaga ini merupakan bagian dari Harold E. Holt Naval Communication Station.  Sebuah pangkalan militer yang dilengkapi fasilitas radio canggih, termasuk untuk mendeteksi Kapal Selam. Lokasi Exmouth yang strategis di garis pantai barat Australia memang sangat menunjang untuk mengawasi Samudra Hindia.

Dua hari sebelumnya, kami baru saja sampai di Exmouth, setelah menempuh road trip, ya menyupir mobil sendiri, sepanjang 1.268 km menyusuri pantai barat Australia. Perjalanan tentu saja sangat melelahkan. Oleh karena itu hari pertama kami gunakan untuk bersantai sambil mengelilingi Cape Range National Park yang indah.

navy piers

Under Navy Piers

Setelah sebelumnya berenang bersama Whale Shark di Coral Bay, kami tentu saja ingin mencoba pengalaman unik lainnya. Ada beberapa pilihan menarik berenang bersama Giant Manta Ray, diving di Ningaloo Reef, atau menyelam di Navy Piers. Navy Piers dipromosikan sebagai salah satu dari 10 spot selam terbaik di dunia. Hmm pilihan yang sulit… Karena sudah pernah melihat Manta Ray, walaupun ukuran kecil di Sangalaki dan Nusa Penida, maka kami putuskan untuk menyelam di Navy Piers.

Lucunya keputusan kami tersebut dipengaruhi oleh pendapat seorang petugas kasir di sebuah Pom Bensin yang kami singgahi di dekat persimpangan Kota Carnarvon. Ia rupanya seorang wisatawan Inggris yang datang ke Australia dengan Work Holiday Visa. Ia seorang Dive Master yang sebelumnya sempat bekerja di Exmouth. “Kamu harus menyelam di Navy Piers, wajib!” katanya meyakinkan kami.

Wobeggong Shark

Wobeggong Shark

Siang hari itu kami berkumpul di Dive Center. Penyelaman memang akan dilakukan pada sore hari menjelang matahari terbenam. Sedikit berbeda dengan di Indonesia, safety briefing dilakukan di Dive Center tersebut. Kelebihannya informasi yang kami terima sangatlah jelas dan cukup waktu untuk bertanya.  Briefing berjalan seperti biasa, hanya saja kami diharuskan membawa paspor.

Kami berangkat dengan sebuah bus turis menuju lokasi penyelaman. Melewati deretan tiang-tiang menjulang yang terhubung jaringan kabel yang menyerupai jaring laba-laba. Inilah pangkalan militer NATO tersebut. Di depan tampak sebuah pos jaga. Bus pun berhenti. Seorang prajurit militer wanita naik ke atas bus dan memeriksa kartu identitas/paspor satu persatu. Unik memang, sebuah prosedur yang lazim dijalankan apabila memasuki sebuah instalasi militer.

“Hmm, ini yang membuat Navy Piers menjadi salah satu destinasi diving top dunia, tidak ada yang berani merusak dan mengambil ikan di lokasi tersebut,” pikir saya. Andaikan New Jetty di Padangbai diperlakukan sama, pasti juga akan jadi lokasi diving top dunia. Ya, New Jetty di Padangbai merupakan diving spot yang sangat indah, pada kesempatan berikutnya saya akan menulis tentang lokasi tersebut.

Sekitar jam 3, kami sampai di Navy Piers. Dermaga ini sangat besar dan terdiri dari 2 tingkat. Level atas terbuat dari beton, sedangkan level bawah terbuat struktur besi, mengelilingi dermaga tersebut. Bersih dan terawat. Tentu saja, ini fasilitas militer NATO. Ternyata kondisi laut masih belum memungkinkan kami menyelam, oleh karena itu kami menunggu sekitar satu jam. Kami manfaatkan untuk mempersiapkan peralatan penyelaman dan kamera UW. Satu lagi perbedaan dengan menyelam di Indonesia, alat adalah tanggung jawab masing-masing penyelam. Semua mengangkut tabung sendiri dan memasang BCD dan Regulator sendiri. Tidak ada yang melayani seperti ketika menyelam di Indonesia. Ini kebiasaan yang bagus, karena setiap penyelam bisa lebih mengenali peralatan mereka.

Big Friendly Grouper

Big Friendly Grouper

Penyelaman dimulai. Kami melakukan Giant Step Entry dari level bawah. Cukup tinggi sekitar 4 meter dari permukaan laut. Karena impact yang cukup keras, peralatan kamera UW diserahkan setelah kami berada di air.  Karena memiliki dive log >300 penyelaman dan kualifikasi Rescue Diver, saya diperbolehkan untuk menyelam mandiri tanpa guide. Alasannya karena saya memotret, tidak ingin mengganggu aktivitas penyelam lain. Biasanya, ketika menemukan objek yang menarik, seorang fotografer akan diam cukup lama. Kasian kalo penyelam lain harus menunggu kami.

Tiang-tiang dermaga yang menjulang tinggi terlihat sangat indah dari dasar laut. Sekilas saya melihat kekayaan terumbu dan biota laut yang hidup di dermaga tersebut. Kesempatan pertama ini saya gunakan untuk mencari Wobeggong Shark. Ikan yang dikenal juga sebagai Hiu Karpet ini pernah kami lihat di Dermaga Padang Bai, sayangnya ketika itu saya hanya membawa kamera saku, sehingga hasilnya tidak maksimal. Pemandu kami memberikan ancer-ancer di mana ia biasa terlihat.  Saya langsung berenang menuju lokasi tersebut. Benar saja, si Wobeggong Shark sedang menempel di dasar sebuah tiang.  Cantik sekali. Namun ternyata sulit juga memotret hiu yang satu ini. Corak dan warnanya sangat mirip dengan tekstur dasar laut di sekitarnya.

Sunset at Navy Piers

Sunset at Navy Piers

Kami melanjutkan berkeliling. Bertemu dengan favorit kami seekor octopus yang malu-malu. Tak jauh. Tiga ekor Reef Whitetip Shark berbaring di dasar laut. Nudi Branch dan Frogfish juga terlihat. Sayangnya saya menggunakan lensa kamera fish-eye bukan makro. Tiba-tiba bayangan hitam besar mendekati kami. Seekor Grouper besar mendekat, nampaknya penasaran dengan kamera yang saya pegang. Saya mengelus-elus dagunya. Ia terlihat manja dan sudah biasa bermain dengan penyelam. Rupanya di kalangan penyelam, ia memang sudah memiliki nickname BFG (Big Friendly Grouper). Ia biasa menyelinap di belakang penyelam seakan mengajak bermain.

Tanpa terasa 50 menit berlalu, walau udara di tabung masih banyak tersisa, 150 bar lagi, namun sesuai SOP, penyelaman kali ini harus diakhiri. Penyelaman ini ditutup dengan sunset yang indah.

Share Button

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Menyelam di Dermaga Militer NATO