Menyelinap di Negeri Naga Komodo

Share Button

“Lariiiiiiii!!! Naik ke pondok!” Itu aba-aba dari petugas Taman Nasional Komodo yang menemani kami. Panik, ya panik, kami pun terburu-buru naik ke atas tangga pondok sambil membawa kamera yang masih terpasang di tripod. Saat itu saya sedang mengambil foto dan video dari jarak yang cukup dekat. Sang naga pun lari mengejar ke arah kami, sampai di anak tanggal tersebut ia terhenti. Kejadian ini sama sekali tidak disangka-sangka. Memang naga ini adalah predator oportunistik, tidak aktif berburu seperti halnya Harimau, Naga Komodo menunggu mangsanya lengah. Naga yang awalnya nampak berbaring santai ini tiba-tiba bangun dan berlari ke arah kami. Mungkin karena salah satu rekan saya sedang menstruasi, begitu simpul kami setelahnya. Penciuman Naga Komodo memang sangat kuat. Rupanya ia mencium bau darah segar. Niat kami untuk menyelinap di antara naga pun gagal.

komodo dragon

Komodo Dragon

Wisata hiking adalah salah satu wisata unggulan di sini. Pelancong bisa mendaftar di kantor Taman Nasional, yang dulu dikelola oleh Putri Naga Komodo.  Setelah memilih jarak hiking yang diinginkan, hiking segera dimulai. Pelancong  akan ditemani oleh ranger taman nasional, sang ranger pun akan dengan sigap bercerita tentang berbagai hal menarik mengenai satwa komodo dan satwa lain yang hidup di taman nasional ini. Setelah selesai hiking pelancong bisa mampir di pasar cinderamata yang dikelola oleh masyarakat Kampung Komodo, sebuah komunitas masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa ini.

Ini adalah kunjungan ketiga saya. Tak habisnya saya kagum dengan keindahan taman nasional yang satu ini. Taman Nasional ini terdiri atas 3 pulau besar Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar dan beberapa pulau kecil. Selain dihuni satwa endemik Naga Komodo (Varanus Komodoensis), laut sekelilingnya juga dihiasi terumbu karang yang sangat indah. Tak heran banyak wisatawan mancanegara yang datang ke tempat ini. Selain menikmati wisata hiking, mereka pun melakukan wisata scuba diving untuk melihat Pari Manta, Eagle Ray, Giant Stingray, Reef Blacktip Shark, Penyu, dan berbagai satwa laut unik lainnya.

sea turtle

Sea Turtle at Pink Beach

Arus bawah laut Taman Nasional Komodo memang terkenal cukup kuat, penyelam sering kali diharuskan memiliki sertifikat selam advanced untuk menikmati titik-titik selam tertentu yang menakjubkan. Tapi jangan khawatir, untuk penyelam pemula dan para pesnorkel pun, taman nasional ini memiliki keindahan terumbu karang yang bisa dinikmati. Salah satu tempat yang terkenal indah yang bisa dinikmati semua wisatawan adalah Pink Beach. Pasir pantai yang terlihat berwarna merah muda ini merupakan tempat favorit untuk diving, bersnorkel, atau sekedar bersantai di pantai. Tapi ingat, tempat ini masih habitat Naga Komodo jadi tetaplah waspada.

Untuk melakukan aktivitas scuba diving, penyelam bisa memilih beberapa Dive Operator di seputar dermaga. Sebagian besar dikelola oleh operator asing. Ada juga Dive Center milik WNI seperti CN Dive dan Ora Dive. CN Dive, didirikan ranger kawakan pak Condo Subagyo pada tahun 1987, mengoperasikan beberapa kapal Phinisi seperti Embun Laut. Kapal Phinisi milik CN Dive dilengkapi dengan dinghy boat, atau perahu kecil untuk antar jemput ke dive spot. Dinghy boat sangat penting pada penyelaman di area Taman Nasional Komodo, karena mampu menjemput penyelam di area yang sulit dijangkau.

phinisi

Phinisi Sailing Boat

Jangan lewatkan keindahan ratusan kelelawar yang terbang saat matahari terbenam di Pulau Kalong dan cobalah bermalam di kapal di atas laut dekat Pulau Komodo. Karena jaraknya yang cukup jauh dari Labuan Bajo, liveaboard adalah cara terbaik untuk menikmati Taman Nasional ini. Anda bisa menyewa kapal kayu dengan berbagai pilihan ukuran untuk menjelajahi taman nasional ini. Liveaboard di atas Phinisi merupakan favorit saya. Kapal tradisional khas Indonesia ini cukup besar sehingga sangat nyaman. Sering kali dilengkapi dengan fasilitas AC dan shower air panas. Cukup mewah.

Wisatawan bisa datang ke Taman Nasional Komodo dengan menggunakan maskapai Sriwijaya, Air Asia, Kalstar, atau Lion Air menuju Labuan Bajo. Dari bandara Labuan Bajo, anda bisa menyewa mobil atau menumpang angkot ke area dermaga. Di Labuan Bajo tersedia berbagai tempat menginap, dari ala backpacker seperti Hotel Gardena, sampai Resort Bintang 4 seperti The Jayakarta Suites. Wisatawan juga bisa memilih menginap di Pulau Kanawa, sebuah pulau yang terletak tak jauh di depan Labuan Bajo.

Selain Taman Nasional Komodo, terdapat lokasi menarik lainnya di seputar Labuan Bajo, di antaranya Batu Cermin dan Air Terjun Cunca Wulang. Bagi yang punya waktu lebih, bisa mencoba melakukan roadtrip sepanjang Pulau Flores. Banyak lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Riung dengan 17 pulaunya, Desa Bena dengan tenun ikatnya, desa di atas awan Wae Rebo, danau tiga warna Kelimutu, dan berbagai destinasi lainnya.

Share Button

Langit Cerah di Milford Sound 2

Share Button

Langit cerah adalah sesuatu yang luar biasa di Milford Sound. Milford Sound memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Menurut penduduk lokal dalam setahun hanya ada beberapa hari tanpa mendung atau hujan. Coba saja googling mengenai Milford Sound, hampir pasti semua foto atau video mendung, berkabut, atau malah hujan. Saya sangat beruntung untuk mendapatkan langit yang cerah selama beberapa hari di sini. Langit biru nyaris tanpa awan sekalipun.

Milford Sound

Milford Sound

Tempat eksotik ini terletak di pulau selatan New Zealand, sekira empat jam perjalanan ke arah Barat Laut dari Kota Queenstown. Merupakan bagian dari Fjordland National Park. Milford Sound sebenarnya bukanlah sebuah Sound melainkan sebuah Fjord. Sound adalah istilah lansekap yang dibentuk oleh pergerakan sungai. Sedangkan Milford Sound sebenarnya dibentuk oleh lelehan glacier es. Lokasinya yang tersamarkan oleh lekukan pegunungan dan pintu masuk yang sempit menyebabkan Milford Sound tidak ditemukan pada ekspedisi Kapten James Cook. Dan baru diketemukan oleh pelaut Eropa pada 1812 oleh Kapten John Grono (UK).

Piopiotahi adalah nama yang diberikan oleh Suku Maori. Penduduk asli New Zealand. Dikisahkan pada legenda Maori bahwa Piopiotahi dipahat oleh Dewa Tū Te Rakiwhānoa untuk memberikan tempat yang aman bagi ikan dan burung. Piopiotahi sangatlah indah sehingga bisa membuat manusia jadi terlena. Oleh karena itu dewa kematian menciptakan Te Namu, dikenal juga dengan sandfly/blackfly sebagai kutukan agar manusia kembali ingat dengan kematian. “Agas?” terkejut saya mendengarnya. Membayangkan berkegiatan outdoor sementara gerombolan Sandflies, atau di Indonesia dikenal dengan nama Agas, berkeliaran. Hewan ini jauh lebih mengganggu dibandingkan nyamuk. Sandflies menyerang berkelompok, bisa merayap masuk ke dalam sela baju, untuk menghisap darah. Gigitannya menyakitkan dan menyebabkan alergi. Salah satu “musuh” utama saya jika berada di hutan belantara Indonesia. Kesal.

Milford Sound dapat dicapai dengan menggunakan bus InterCity dari Queenstown. Tiket bisa dibeli secara online. Tapi jangan lupa memastikan ketersediaan penginapan terlebih dahulu. Hanya ada satu penginapan di sana yang dikelola oleh Milford Sound Lodge. Hari pertama di sana sebenarnya berawan dan gerimis. Saya hanya menghabiskan waktu berjalan kaki mengelilingi area ini. Menyusuri sungai menuju dermaga. Melihat kegiatan nelayan lokal di sana. Dari tumpukan kerangkeng yang terlihat, nampaknya hasil laut utama mereka adalah kepiting. Satu hal lagi, tidak ada sinyal handphone dan tidak ada toko apapun. Benar-benar tempat yang terpencil.

Stirling Falls

Stirling Falls

Pada hari kedua saya mengikuti Cruise. Tiket kapal wisata ini dibeli di dermaga. Kapal ini cukup besar dan nyaman. Kami dibawa mengelilingi Milford Sound sampai di perbatasan Laut Tasman. Apabila anda memilih kegiatan Whale Watching, atau melihat Paus, kapal akan dibawa berlayar ke Laut Tasman. Hal yang paling menarik di sini adalah Stirling Falls. Air terjun 146 meter ini sangat indah. Kami dibawa persis ke bawahnya. Basah kuyup tentunya. “Fedi Fianto… Fedi Fianto… Please report to our crew for Marine Reserve tour.” Nama saya dipanggil-panggil. Aneh. Saya kan tidak mendaftar untuk tur di Marine Reserve. Hanya cruise saja. Hmm saya menemui petugas kapal. Lalu diarahkan menuju pintu samping kapal.

Beberapa saat kemudian kapal berlabuh di Marine Reserve. Ternyata cuma saya sendiri peserta turnya. “Private tour,” pikir saya sambil tertawa dalam hati. Seorang guide Marine Reserve menghampiri saya dan mengajak saya masuk untuk memulai tur. Ia dengan ringkas tapi jelas menceritakan segala hal mengenai Milford Sound, terutama yang berkaitan dengan geologi, vegetasi, dan fauna. Hal yang sangat menarik buat saya. Ternyata air di Fjord ini terbagi dua. Bagian bawah adalah air laut, sedangkan bagian atasnya air tawar. Air hujan yang menerpa pohon membawa zat berwarna gelap yang disebut tannin. Zat ini menghalangi cahaya Matahari masuk sehingga memberikan efek seperti di laut dalam. Tak heran berbagai jenis fauna laut dalam hidup di sini. Seperti Black Coral yang biasanya hidup di laut dalam jauh di bawah batas kegiatan selam rekreasi. Disebut Black Coral karena batangnya berwarna hitam pekat, walau jika dilihat sekilas tubuhnya berwarna putih. Fasilitas Marine Reserve ini dilengkapi dengan bangunan bawah air. Bangunan berkedalaman 20 meter ini dilengkapi dengan jendela dari Acrylic khusus, sehingga fauna yang ada di luar, terlihat hampir sama dengan ukuran aslinya. Tidak perlu menyelam, saya bisa melihat langsung Black Coral dan berbagai macam fauna lainnya, langsung di habitatnya.

White Corals

White Corals

Perjalanan ini adalah rangkaian akhir dari pendakian Aoraki Mt Cook. Oleh karena itu, saya ingin mengkombinasikan perjalanan dengan kegiatan olahraga air. Kegiatan pertama yang saya ikuti di sini adalah tur Seakayak. Dengan menggunakan Seakayak, saya berharap bisa melihat lebih dekat kehidupan fauna unik di sini, seperti NZ Crested Penguin dan Fur Seals. Kegiatan ini seperti biasa dimulai dengan safety briefing. Seakayak sangat stabil dan mudah dikendarai sehingga cocok untuk berbagai usia dan tingkat kebugaran. Tentu saja saya tidak menyianyiakan kesempatan ini dan mengambil tur terjauh.

Perjalanan dengan Seakayak dimulai dengan menyusuri Fjord ke arah dermaga kapal. Tak jauh dari dermaga terlihat Bowen Falls, air terjun setinggi 160 meter ini merupakan air terjun tertinggi di sini, dan salah satu dari dua air terjun permanen di Milford Sound. Bowen Falls digunakan untuk menjadi pembangkit listrik tenaga air untuk wilayah ini. Curah hujan yang mencapai 250 mm dalam satu hari ini menciptakan banyak sekali air terjun temporer di sepanjang tebing di sini. Karena tinggi tebingnya sebagian besar airnya tidak sampai jatuh ke bawah karena tertiup angin. Curah hujan yang tinggi juga sering kali menyebabkan tree avalanches (longsor pepohonan), yang menyisakan tebing yang gundul.

Milford Seakayak Tour

Milford Seakayak Tour

Saat menikmati keindahan Bowen Falls kami ditemani oleh beberapa lumba-lumba yang sedang bermain. Ketika kami menyebrang ke sisi lain, di sana tampak beberapa ekor New Zealand Crested Pinguin. Sambil beristirahat mendayung, kami menyaksikan kehidupan Pinguin khas Milford ini, ditemani angin Milford yang sejuk. Di sisi tebing lain tampak beberapa ekor Anjing Laut sedang beristirahat di bebatuan. Tidak mengacuhkan kami yang ada didekatnya. Setelah menghabiskan bekal makan siang di atas Seakayak kami kembali ke dermaga.

 

Share Button

Tasmania Great Eastern Drive

Share Button

Mungkin pembaca pernah mengenal tokoh kartun Taz, salah satu tokoh film seri Looney Tunes. Tokoh favorit saya masa kecil ini selalu digambarkan kesal dan hanya bisa mengeluarkan kata “Grrr…” sambil membuat gerakan yang menyerupai Tornado. Tokoh tersebut terinspirasi dari satwa unik yang hidup di sini. Tasmanian Devil. Buat saya, itulah saat pertama mendengar tentang Tasmania. Sebuah pulau besar di selatan Benua Australia.

Tasmania adalah Negara Bagian Australia dengan ibukota Hobart. Tasmania memiliki letak geografis yang unik, selain merupakan salah satu daratan paling selatan di belahan bumi kita, juga karena flora dan faunanya terkenal yang unik. Tasmania merupakan salah satu lokasi untuk menyaksikan fenomena alam Aurora Australis. Saya cukup beruntung sudah menyaksikan Aurora Borealis ketika perjalanan ke Iceland dan Arktika. Siapa tau kali ini bisa melengkapinya dengan Aurora Australis.

Perjalanan dimulai dari Airport Kota Launceston, kota kedua terbesar di Tasmania yang terletak di sebelah utara pulau ini, setelah sekitar 1 jam penerbangan dari Melbourne menggunakan maskapai budget Jetstar. Dalam perjalanan ini saya menyewa sebuah city car matic untuk menghemat bahan bakar. Mobil ini dilengkapi fitur Cruise Control yang memudahkan untuk mengemudi dalam jarak yang cukup jauh. Hampir seluruh akomodasi dan aktivitas sudah direncanakan dan dibooking sebelumnya. Maklum ini adalah pulau terpencil yang tidak terlalu banyak dikunjungi wisatawan.

Bay of Fires

Bay of Fires

Destinasi pertama adalah St Helens, desa kecil di timur laut Tasmania. Desa peristirahatan ini dekat dengan pantai yang dikenal sangat indah, Bay of Fires. Disebut Bay of Fires karena pantai ini memiliki pasir putih, air laut yang berwarna turquoise, dan dihiasi batuan granit dengan nuansa oranye. Apabila dikombinasikan dengan Aurora Australis menghasilkan pemandangan yang sangat eksotis. Sayangnya kali ini saya belum dapat menyaksikan Aurora Australis di sini, karena tingkat Geo Magnetic Storm yang terlalu rendah. Untuk memantau kondisi Geo Magnetic Storm dan ramalan tingkat Aurora Australis saya menggunakan website Aurora Service.

Uniknya di setiap pantai di Tasmania, pengunjung diingatkan siapa sebenarnya pemilik pantai ini. Bukan milik manusia tentunya. Pantai ini adalah milik beragam fauna di sana, pengunjung harus berhati-hati jangan sampai menginjak telor burung dan menggangu kehidupan satwa di sana. Selain mengunjungi Bay of Fires, saya menyempatkan untuk mampir di Ansons Bay, 35 km di utara St. Helens melalui jalan gravel dan melewati hutan lebat.

Bicheno adalah destinasi kedua dalam perjalanan ini. Di desa ini ada beberapa kegiatan menarik. Salah satunya adalah melihat Tasmanian Devil di Nature World, sebuah sanctuary yang berada tak jauh di desa ini, dan yang kedua scuba diving. Sanctuary seluas puluhan hektar ini merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir untuk satwa ini dari ancaman kepunahan. Akibat musnahnya Tasmanian Tiger, top predator, membuat jumlah satwa ini menjadi tak terkendali. Namun suatu hari muncul sebuah penyakit tumor kulit yang mematikan yang mengancam keberadaan satwa unik ini. Oleh karena itu, Tasmanian Devil yang hidup di sini dipilih yang sehat dan bebas dari penyakit mematikan tersebut. Sanctuary ini dikelilingi oleh pagar berlapis yang bertujuan untuk menjaga dari kontaminasi Tasmanian Devil yang tidak sehat.

Devil In The Dark

Devil In The Dark

Kami berkesempatan untuk mengikuti tur Devil In The Dark, sebuah tur di malam hari untuk melihat aktivitas Tasmanian Devil langsung di habitatnya. Satwa ini adalah satwa nocturnal yang tentu saja lebih aktif di malam hari. Tur ini dipandu oleh seorang petugas yang memberikan pengantar mengenai konservasi satwa unik ini. Kami berada dalam ruangan gelap gulita yang dipisahkan dengan kaca berlapis ganda dengan habitat Tasmanian Devil. Seekor Wallaby sengaja diberikan sebagai makanan alami. Di kegelapan terdengar suara seekor Tasmanian Devil mendekat. Lampu di luar dinyalakan bertahap, agar tidak mengagetkan satwa tersebut, walaupun sebenarnya mata Tasmanian Devil rabun dan hanya bisa melihat dengan jelas 1 meter di depannya. Seekor betina tampak sedang menyantap Wallaby tersebut. Tak lama kemudian dua ekor jantan datang, namun segera dihalau si betina disertai dengan bunyi mendesis “sssssssh….” Betina lainnya datang dan mencoba berebut santapan tersebut. Tampak satwa ini sangat mengandalkan indera penciumannya, mereka selalu mengendus, kadang tiba-tiba lari menjauh, mungkin mencium adanya ancaman. Atraksi ini sangat direkomendasikan, selain dikemas sangat menarik, keuntungannya disumbangkan untuk kegiatan konservasi.

Bicheno DC

Bicheno DC

Esok harinya saya datang ke Bicheno Dive Center untuk melakukan kegiatan scuba diving. Suhu air di Tasmania cukup dingin (temperate) oleh karena itu kami harus menggunakan semi-dry wet suit atau dry suit. Karena suhu diperkirakan “hanya” 17 derajat Celcius, maka saya hanya menggunakan semi-dry wetsuit. Mirip dengan wetsuit biasa hanya saja tebal 7 mm dan memiliki fitur yang mencegah air masuk ke dalam. Sudah lama saya tidak pernah menggunakan wet suit setebal ini. Saya akan membutuhkan waktu untuk menyusuaikan bouyancy di dalam air. Seperti biasa, di Australia, semua penyelam harus mempersiapkan peralatannya masing-masing. Termasuk mengangkat tabung ke atas kapal. Uniknya kapal dibawa dari Dive Center tersebut dengan menggunakan trailer yang ditarik truk. Lokasi penyelaman adalah Governor Island Nature Reserve Park. Pada penyelaman ini saya sempat melihat Fur Seals atau Anjing Laut sayangnya dari jarak jauh, Lobster terbesar yang pernah saya liat, sekira ukuran anak balita, dan berbagai jenis Macro seperti Spider Crab. Sebelum meninggalkan Bicheno saya sempat menikmati Oyster segar yang sangat lezat.

Fresh Oysters

Fresh Oysters

Destinasi berikutnya yang tidak kalah menarik adalah Freycinet National Park. Tak jauh dari desa Coles Bay. Freycinet adalah salah satu lokasi trekking favorit di Tasmania. Durasi trekking beragam dari beberapa jam sampai beberapa hari. Tentu saja pengunjung jika ingin menginap harus menyiapkan logistik dan tenda sendiri. Semua pengunjung yang datang harus mendaftarkan diri dan kendaraannya di kantor taman nasional. Freycinet terletak di sebuah semenanjung di Timur Tasmania yang dihiasi 2 pantai yang sangat terkenal Wineglass Bay (sunrise beach) dan Hazard Bay (sunset beach). Untuk mencapai kedua pantai tersebut pengunjung harus berjalan sekitar 5 jam. Memang cukup jauh dan menuruni lembah. Namun sangat layak untuk dicoba karena Wineglass Bay merupakan pantai berpasir putih yang sangat bersih. Buat saya sangat mengasikkan bersantai di tepiannya. Malah sebagian pengunjung terlihat berenang. Saya cukup beruntung untuk dapat mengunjungi kedua pantai ikonik tersebut.

Wineglass Bay

Wineglass Bay

Eaglehawk Neck adalah destinasi terakhir dalam rangkaian Great Eastern Drive ini. Eaglehawk Neck terletak tak jauh dari Port Arthur yang merupakan lokasi bersejarah. Di Eaglehawk Neck saya melakukan kegiatan scuba diving di Giant Kelp Forest (Macrocystis Ecklonia) dan berkesempatan berinteraksi langsung di bawah air dengan kelompok Fur Seal. Sebuah ekosistem unik yang hanya tinggal tersisa di beberapa tempat saja di Bumi ini. Penyelaman di lokasi ini akan saya tuliskan terpisah.

Biaya dalam perjalanan ini:

  1. Asuransi perjalanan dari World Nomads.
  2. Sewa city car selama 7 hari, unlimited km, AUD 168, dipesan melalui maskapai Jetstar.
  3. Bahan bakar Unleaded 91 AUD 1.16 /liter.
  4. Tur Devil in The Dark AUD 55
  5. Kegiatan scuba diving bervariasi, silahkan cek langsung ke website Bicheno Dive Center dan Eaglehawk Dive Center.
  6. Penginapan: Launceston Backpackers, St Helens Bayside, Bicheno Backpackers, Coles Bay YHA, dan Waratah Hostel Hobart.
  7. Biaya masuk Freycinet National Park, satu mobil (termasuk 8 pengunjung), selama 24 jam, AUD 24. Atau perorang AUD 12.
Share Button

Berenang Bersama Whale Shark

Share Button

Whale Shark! Sekilas nama ini pasti menakutkan awam yang mendengarnya. Hiu Paus. Padahal ikan terbesar di dunia ini merupakan ikan yang sangat bersahabat. Penyelam sering menyebutnya Gentle Giant. Berbeda dengan ikan Hiu lainnya. Whale Shark tidak memakan daging, melainkan memfilter air laut untuk memakan plankton, macroalgae, larva kepiting dan hewan kecil lainnya. Tak ada hubungannya dengan Ikan Paus. Nama Paus dilekatkan hanya karena ukurannya yang sangat besar.

Bagi banyak penyelam bertemu dengan Whale Shark ketika menyelam adalah hal yang sangat istimewa. Juga buat kami. Kegiatan ini merupakan salah satu tujuan utama trip kami di Western Australia. Saya secara khusus mempersiapkan peralatan Underwater Camera untuk dapat mengabadikannya. Baik lensa Fish-eye, Strobe, maupun Jetfin untuk dapat bermanuver lebih baik di dalam air.

Whale Shark and A Swimmer

Whale Shark and A Swimmer

Kami tidak tau persis di mana kami bisa melakukan kegiatan ini. Maklum road trip dari Perth menuju Exmouth ini memang agak impulsif. Kami tidak membuat itinerary yang detil. Malah lebih tepat tidak membuat itinerary sama sekali. Ketika melalui kota Jurien Bay kami mendapat informasi bahwa Whale Shark mulai terlihat di Ningaloo Reef. Kabar baik berarti musim Whale Shark telah tiba! Memang tidak setiap saat Whale Shark muncul di perairan ini. Ikan tersebut muncul hanya pada bulan April s/d Juli.

Ketika melanjutkan road trip ke utara, informasi semakin jelas. Kegiatan tersebut dilakukan di Coral Bay. Kami mendapatkan informasi tersebut dari berbagai brosur yang kami temukan di hostel tempat kami menginap. Itu adalah salah satu keunggulan menginap di hostel. Di hostel tersedia berbagai jenis informasi, baik dari rak brosur maupun dari penjaga hostel yang biasanya dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan wisatawan. Kami memang tidak pernah melakukan booking  lewat website, lebih memilih mendekat ke lokasi dan langsung mendaftar di tempat. Biasanya cara ini jauh lebih murah.

Kami tiba malam hari di Coral Bay. Kota kecil ini adalah kota wisata yang cantik di tepi pantai berpasir putih yang indah. Kami menemukan sebuah Dive Center di sana. Sayangnya Dive Center tersebut sudah tutup. Namun dari informasi yang tertera di poster, besok Dive Center tersebut akan mengadakan kegiatan berenang dengan Whale Shark. Kapal akan berangkat jam 8 pagi.

“Maaf, kami tidak memiliki ijin menyelam dengan Whale Shark, lisensi perusahaan kami hanya membolehkan snorkeling saja,” kata petugas Dive Center tersebut. “Apa?  Jauh-jauh ke sini membawa peralatan lengkap tapi hanya bisa snorkeling?” keluh saya dalam hati. “Satu hal lagi, tidak boleh menggunakan Flash ketika memotret Whale Shark,” kata petugas itu lagi sambil memberikan brosur tentang kegiatan tersebut. Selamat tinggal Strobe…

Waiting for boat

Waiting for boat

Berbeda dengan di Nabire, Papua atau di Oslob, Filipina. Australia menerapkan kebijakan konservasi yang sangat ketat. Whale Shark bukan hanya tidak boleh dipegang, namun juga dilarang untuk diberi makan, agar tidak mengubah perilaku aslinya. Manusia harus menjaga jarak > 5m dari hewan tersebut. Hanya boleh dilihat tidak boleh disentuh. Memotret dilarang menggunakan Flash/Strobe. Kegiatan menyelam pun dilarang karena beresiko mengganggu ikan raksasa tersebut.

Karena tidak diberi makan, Whale Shark tidak akan berada di dekat pantai, tetapi akan ada di tengah laut. Sebuah pesawat terbang kecil digunakan untuk menemukan lokasi Whale Shark dan mengarahkan kapal kami ke sana. Kelebihannya, dibanding di Indonesia ataupun Filipina, Whale Shark yang kami temui akan berusia dewasa dan tentu saja berukuran besar, panjangnya antara 11-18 meter. Sebesar kapal.

Peserta sebagian besar adalah keluarga muda. Kegiatan ini rupanya juga diikuti oleh anak-anak. Sebagian besar anak-anak yang ikut hanya akan melihat dari atas kapal. Namun ada juga yang akan mencoba ikut berenang bersama Whale Shark.  Mereka akan didampingi oleh guide khusus. Sebelum mengikuti kegiatan utama, kami diturunkan di sebuah terumbu karang yang agak sedikit berarus. Ini bertujuan untuk menguji kemampuan berenang masing-masing peserta. Maklum, nantinya kami akan diterjunkan di tengah laut.

Seorang petugas memberikan briefing singkat mengenai bagaimana kegiatan ini akan dilakukan. Apa hal yang boleh dan apa hal yang tidak boleh dilakukan. “Kapal akan menurunkan kalian di depan Whale Shark yang sedang berenang,” ia menjelaskan. “Kalian harus menjauh ke kiri atau ke kanan mengikuti Guide untuk menghindari Whale Shark tersebut.” “Hati-hati jangan terlalu dekat, satu kibasan ikan  tersebut bisa mematahkan tangan atau kaki kalian,” lanjutnya. “Selalu di permukaan, jangan menyelam, karena ia akan ikut menyelam lebih dalam.” “Lambaikan tangan apabila lelah, kapal akan menjemput kalian,” tambahnya. “Jangan lupa, selalu perhatikan aba-aba dari guide!” ucapnya mengakhiri briefing tersebut.

Whale Shark, The Gentle Giant

Whale Shark, The Gentle Giant

Pesawat pemandu sudah menemukan lokasi Whale Shark. Kapal kami menuju ke sana. “Ada 4 Whale Shark,” kata si petugas. Kami segera bersiap. Saya menyiapkan kamera underwater. Tanpa Strobe tentunya. Mengenakan masker dan fin. Duduk di bagian belakang kapal. Menunggu aba-aba dari petugas untuk lompat ke dalam air.

“Terjun!” seru petugas. Kami terjun ke laut.  “Di mana whale sharknya?” pikir saya sambil mencari di dalam air. “Menjauh!” teriak guide. Ternyata Whale Shark sudah ada persis di depan saya. Tanpa menyianyiakan kesempatan, saya segera mengambil satu dua foto sebelum menjauh. “Kamu harus menjauh lebih cepat,” kata petugas. “Kamera saya berat,” saya beralasan. Kami mengikuti arah Whale Shark itu berenang sekuat mungkin. Membawa kamera sebesar ini berenang memang tantangan tersendiri. Saya memilih melambaikan tangan meminta dijemput oleh kapal. Kapal pun menjemput, untuk kembali menerjunkan saya  di depan Whale Shark.

Sungguh indah melihat seekor Whale Shark berenang. Tak heran mengapa disebut Gentle Giant. Gerakan renangnya terlihat sangat anggun. Ia berenang mengelilingi seakan senang dengan kehadiran kami. Kapal membawa kami dari satu Whale Shark ke Whale Shark lainnya. Tanpa terasa 2 jam lewat. Lelah namun belum puas. Sesuai aturan konservasi kegiatan ini dibatasi maksimum 2 jam dalam satu hari. Kegiatan hari ini harus diakhiri.

Saat perjalanan pulang kami mendapatkan bonus istimewa. Beberapa ekor Tiger Shark terlihat berenang di sekitar kapal. Tiger Shark memang punya reputasi sebagai salah satu hiu paling ganas. Kepalanya yang kotak dan motif loreng di badannya membuat ia mudah dikenali. Ukurannya cukup besar 3-4 meter.

Semua peserta nampak bahagia dengan pengalaman hari ini yang luar biasa. Sambil membuat tanda hiu di atas kepala, kami berfoto bersama sambil berteriak, “Shark!”

 

Share Button

Menyelam di Dermaga Militer NATO 2

Share Button

Lokasi penyelaman kami kali ini memang sangat unik. Sebuah dermaga militer NATO yang masih aktif. Dermaga ini merupakan bagian dari Harold E. Holt Naval Communication Station.  Sebuah pangkalan militer yang dilengkapi fasilitas radio canggih, termasuk untuk mendeteksi Kapal Selam. Lokasi Exmouth yang strategis di garis pantai barat Australia memang sangat menunjang untuk mengawasi Samudra Hindia.

Dua hari sebelumnya, kami baru saja sampai di Exmouth, setelah menempuh road trip, ya menyupir mobil sendiri, sepanjang 1.268 km menyusuri pantai barat Australia. Perjalanan tentu saja sangat melelahkan. Oleh karena itu hari pertama kami gunakan untuk bersantai sambil mengelilingi Cape Range National Park yang indah.

navy piers

Under Navy Piers

Setelah sebelumnya berenang bersama Whale Shark di Coral Bay, kami tentu saja ingin mencoba pengalaman unik lainnya. Ada beberapa pilihan menarik berenang bersama Giant Manta Ray, diving di Ningaloo Reef, atau menyelam di Navy Piers. Navy Piers dipromosikan sebagai salah satu dari 10 spot selam terbaik di dunia. Hmm pilihan yang sulit… Karena sudah pernah melihat Manta Ray, walaupun ukuran kecil di Sangalaki dan Nusa Penida, maka kami putuskan untuk menyelam di Navy Piers.

Lucunya keputusan kami tersebut dipengaruhi oleh pendapat seorang petugas kasir di sebuah Pom Bensin yang kami singgahi di dekat persimpangan Kota Carnarvon. Ia rupanya seorang wisatawan Inggris yang datang ke Australia dengan Work Holiday Visa. Ia seorang Dive Master yang sebelumnya sempat bekerja di Exmouth. “Kamu harus menyelam di Navy Piers, wajib!” katanya meyakinkan kami.

Wobeggong Shark

Wobeggong Shark

Siang hari itu kami berkumpul di Dive Center. Penyelaman memang akan dilakukan pada sore hari menjelang matahari terbenam. Sedikit berbeda dengan di Indonesia, safety briefing dilakukan di Dive Center tersebut. Kelebihannya informasi yang kami terima sangatlah jelas dan cukup waktu untuk bertanya.  Briefing berjalan seperti biasa, hanya saja kami diharuskan membawa paspor.

Kami berangkat dengan sebuah bus turis menuju lokasi penyelaman. Melewati deretan tiang-tiang menjulang yang terhubung jaringan kabel yang menyerupai jaring laba-laba. Inilah pangkalan militer NATO tersebut. Di depan tampak sebuah pos jaga. Bus pun berhenti. Seorang prajurit militer wanita naik ke atas bus dan memeriksa kartu identitas/paspor satu persatu. Unik memang, sebuah prosedur yang lazim dijalankan apabila memasuki sebuah instalasi militer.

“Hmm, ini yang membuat Navy Piers menjadi salah satu destinasi diving top dunia, tidak ada yang berani merusak dan mengambil ikan di lokasi tersebut,” pikir saya. Andaikan New Jetty di Padangbai diperlakukan sama, pasti juga akan jadi lokasi diving top dunia. Ya, New Jetty di Padangbai merupakan diving spot yang sangat indah, pada kesempatan berikutnya saya akan menulis tentang lokasi tersebut.

Sekitar jam 3, kami sampai di Navy Piers. Dermaga ini sangat besar dan terdiri dari 2 tingkat. Level atas terbuat dari beton, sedangkan level bawah terbuat struktur besi, mengelilingi dermaga tersebut. Bersih dan terawat. Tentu saja, ini fasilitas militer NATO. Ternyata kondisi laut masih belum memungkinkan kami menyelam, oleh karena itu kami menunggu sekitar satu jam. Kami manfaatkan untuk mempersiapkan peralatan penyelaman dan kamera UW. Satu lagi perbedaan dengan menyelam di Indonesia, alat adalah tanggung jawab masing-masing penyelam. Semua mengangkut tabung sendiri dan memasang BCD dan Regulator sendiri. Tidak ada yang melayani seperti ketika menyelam di Indonesia. Ini kebiasaan yang bagus, karena setiap penyelam bisa lebih mengenali peralatan mereka.

Big Friendly Grouper

Big Friendly Grouper

Penyelaman dimulai. Kami melakukan Giant Step Entry dari level bawah. Cukup tinggi sekitar 4 meter dari permukaan laut. Karena impact yang cukup keras, peralatan kamera UW diserahkan setelah kami berada di air.  Karena memiliki dive log >300 penyelaman dan kualifikasi Rescue Diver, saya diperbolehkan untuk menyelam mandiri tanpa guide. Alasannya karena saya memotret, tidak ingin mengganggu aktivitas penyelam lain. Biasanya, ketika menemukan objek yang menarik, seorang fotografer akan diam cukup lama. Kasian kalo penyelam lain harus menunggu kami.

Tiang-tiang dermaga yang menjulang tinggi terlihat sangat indah dari dasar laut. Sekilas saya melihat kekayaan terumbu dan biota laut yang hidup di dermaga tersebut. Kesempatan pertama ini saya gunakan untuk mencari Wobeggong Shark. Ikan yang dikenal juga sebagai Hiu Karpet ini pernah kami lihat di Dermaga Padang Bai, sayangnya ketika itu saya hanya membawa kamera saku, sehingga hasilnya tidak maksimal. Pemandu kami memberikan ancer-ancer di mana ia biasa terlihat.  Saya langsung berenang menuju lokasi tersebut. Benar saja, si Wobeggong Shark sedang menempel di dasar sebuah tiang.  Cantik sekali. Namun ternyata sulit juga memotret hiu yang satu ini. Corak dan warnanya sangat mirip dengan tekstur dasar laut di sekitarnya.

Sunset at Navy Piers

Sunset at Navy Piers

Kami melanjutkan berkeliling. Bertemu dengan favorit kami seekor octopus yang malu-malu. Tak jauh. Tiga ekor Reef Whitetip Shark berbaring di dasar laut. Nudi Branch dan Frogfish juga terlihat. Sayangnya saya menggunakan lensa kamera fish-eye bukan makro. Tiba-tiba bayangan hitam besar mendekati kami. Seekor Grouper besar mendekat, nampaknya penasaran dengan kamera yang saya pegang. Saya mengelus-elus dagunya. Ia terlihat manja dan sudah biasa bermain dengan penyelam. Rupanya di kalangan penyelam, ia memang sudah memiliki nickname BFG (Big Friendly Grouper). Ia biasa menyelinap di belakang penyelam seakan mengajak bermain.

Tanpa terasa 50 menit berlalu, walau udara di tabung masih banyak tersisa, 150 bar lagi, namun sesuai SOP, penyelaman kali ini harus diakhiri. Penyelaman ini ditutup dengan sunset yang indah.

Share Button